Panduan Kitab Amsilatut Tasrifiyah
Kitab Amsilatut Tasrifiyah karya
Namun admin lupa nama pembuatnya, karena blognya juga sudah terhapus. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah, amin.
Berikut ini Penjelasannya :
Pertama perlu saya tegaskan
bahwa standar saya dalam menulis keterangan tentang kaidah shorof ini adalah
sebuah kitab/buku kecil dan tipis tapi kaya akan dasar ilmu tata bahasa arab
yang menampilkan contoh-contoh kiyasan tashrîf dalam bentuk seperti tabel yaitu
kitab Amtsilatut tashrif karangan seorang ulama Indonesia yang terkemuka pada
masanya yaitu Syeikh Muhammad Ma’shum ibn ‘Ali yang berdomisili di Kewaron
Jombang Jatim, kitab karangan beliau ini telah tersebar luas di pesantren-pesantren
di pulau Jawa dan beberapa daerah di luar Jawa, bisa didapatkan di toko-toko
buku kurikulum pelajaran pesantren.
Demikian agar diperhatikan sebelumnya bagi siapa
saja yang hendak mempelajarinya terlebih dahulu saya sarankan untuk membeli
bukunya untuk dijadikan panduan.
Sebelum mempelajari suatu
bidang ilmu terlebih dahulu harus diketahui defenisi ilmu tersebut beserta
cakupan-cakupannya, dalam hal ini ilmu Tashrif atau yang biasa
disebut dengan ilmu Shorof.
Tashrif secara
etimologi berarti perubahan, pengalihan atau penggunaan, sedangkan secara
istilah Tashrif adalah suatu bidang ilmu yang membahas tentang
bentuk-bentuk kalimat dalam bahasa arab serta penjelasan huruf-hurufnya, asli,
tambahan, pembuangan dan sebagainya.
Buku Amtsilatut tashrif yang ditulis oleh syeikh
Muhammad Ma’shum ibn ‘Ali merupakan jadwal dan contoh-contoh kalimat bahasa
arab yang telah jadi setelah proses penambahan atau pengurangan yang sesuai
dengan kaidah Shorof baku, contoh-contoh tersebut terbagi
menjadi dua bagian yaitu Tashrif istilahi yang menampilkan
wazan-wazan/contoh kalimat isim dan kalimat fi’il qiyasan (qiyasî) serta
perubahan bentuk kalimatnya setelah ditambahi dan dikurangi, dan Tashrîf lughowî
yang menampilkan bentuk-bentuk kalimat isim ataupun fi’il ditinjau dari dlomir
(makna yang tersimpan) yang terkandung di dalamnya, mengenai ilmu yang
menjelaskan tentang proses penambahan dan pengurangan huruf dalam kalimat
dinamakan dengan ilmu I’lâl.
kalimat
Kalimat dalam bahasa arab terbagi menjadi 3:
- kalimat isim yaitu kalimat yang mempunyai
makna dengan sendirinya dan tidak mempunyai waktu/masa seperti زيد/ناصر (zaid/penolong)
- kalimat fi’il yaitu kalimat yang mempunyai
makna dengan sendirinya dan mempunyai masa seperti نصر (telah
menolong)
- kalimat huruf yaitu kalimat yang hanya bisa
bermakna apa bila disambungkan dengan kalimat lain seperti هل, إنْ (apakah, apa bila)
pembagian dari kalimat-kalimat tersebut diatas secara lengkap bisa dilihat di kitab nahwu atau ilmu gramatika arab.
Sedangkan kalimat-kalimat yang tertulis dalam
jadwal Amtsilatut tshrîfdalam Tashrif istilâhî sesuai
dengan urutannya yang berjejer ke samping adalah sebagai berikut:
- Fi’il madly ialah kalimat yang menunjukkan zaman
madly/masa lampau (past tense), hukumnya adalah mabnî fathah (tercetak
dalam bentuk berharkat fathah huruf akhirnya) kecuali apa bila
bersambung dengan dlômîr rofa’ mutaharrik (bentuk dlomir
mulai dari jama’ mu’annats ghoibah sampai mutakallim ma’al ghoir dalam
tshrif lughowî hal. 36) maka harus disukunkan huruf akhirnya seperti نصرَ mejadi نصرْنَ, atau bila bertemu denganwau jama’ maka
harus dibaca dlommah huruf akhirnya sepertiنصرَ menjadi نصرُوا
- Fi’il mudlôri’ ialah kalimat yang menunjukkan zaman
hâl ataumustaqbal/saat ini atau akan datang (present
continues tense), hukumnya adalah mabni dlommah kecuali apa bila kemasukanâmil
nashob (kalimat yang menuntut nashob) maka harus
dibaca fathah huruf akhirnya seperti ينصرُ menjadi أنْ ينصرَ atau âmil jazm (kalimat
yang menuntut jazm) maka harus dibaca sukun huruf akhirnya seperti ينصرُ menjadi لم ينصرْ
- Mashdar ghoiru mîm ialah kalimat isim yang terletak pada
urutan ketiga dalam tashrifan fi’il yang tidak diawali dengan huruf mîm
dan bermakna kejadian, hukumnya adalah mu’rob (harkat
huruf terakhirnya bisa berubah sesuai âmil yang menuntutnya), dansamâ’î (bentuk
lafadznya tidak selamanya mengikuti qiyasan shorof, akan tetapi
disesuaikan dengan bahasa yang pernah didengar dari orang arab)
seperti هذا ضرب خفيف, ضربت زيدا
ضربا شديدا, ضربت زيدا بضرب خفيف
- Mashdar mîm atau Isim
mashdar ialah isim mu’rob yang diawali dengan
huruf mîm dan beermakna kejadian, hukumnya adalahmu’rob dan qiyasî (bentuk
lafadznya disesuaikan dengan kiyasan shorof) seperti مقام, منصر dari fi’il madly قام, نصر
- Isim dlomîr ialah isim yang tidak dapat dijadikan
awalan dan tidak dapat terletak setelah إلا secara
ikhtiyar (bila jatuh setelah illâmaka dikategorikan jarang)
seperti contoh أحب الناس إلاكhukumnya adalah mabnî
- Isim fâ’il ialah isim yang dibaca rofa’ yang
disebut setelah fi’ilnya, isim fâ’il ada dua: fâ’il isim dhohir seperti جاء زيد dan fâ’il isim dlomîr
seperti جاء هو ,
hukumnya adalah mabnî dlommah, isim fa’il ini menunjukkan pada makna
kejadian dan orang yang melakukannya yang disebut dengan subjek
- Isim isyâroh ialah isim yang
dipakai sebagai makna isyarat, hukumnya adalah mabnî seperti هذا زيد
- Isim maf’ûl ialah isim yang dibaca nashob yang
disebut setelah fâ’il, isim maf’ûl juga ada dua sebagaimana isim fâ’il
sepertiضربت زيدا dan ضربته,
hukumnya adalah mabnî fathah, isim maf’ûl ini menunjukkan pada
makna kejadian dan orang/sesuatu yang menjadi objek kejadian tersebut.
- Fi’il amar ialah fi’il yang menunjukkan makna
perintah yang eksis pada zaman mustaqbal, yang mana harkat ‘ain fi’ilnya
sama dengan harkat ‘ain fi’il mudlôri’nya, seperti ينصُرُ menjadi انصُرْ ْhukumnya
adalah mabnî sukun
- Fi’il nahî ialah fi’il yang menunjukkan makna
larangan yang harkat ‘ain fi’ilnya sama dengan harkat ‘ain fi’il
mudlôri’nya seperti لا
تنصُرْ dari
mudlôri’ ينصُرُ ,
hukumnya adalah mabnî sukun
- Isim zamân dan Isim makân ialah
isim yang menunjukkan makna masa/waktu atau makna tempat, dua isim ini
bentuk wazannya sama akan tetapi maknanya bisa berbeda sesuai
pemakaiannya, hukumnya adalah mu’rob, seperti contoh جرى المآء مجراه (air mengalir ditempat mengalirnya) dan ضربت زيدا عند المظهر (aku memukul zaid pada waktu dzuhur)
- Isim âlat ialah isim yang menunjukkan makna alat
seperti مفتاح(kunci), hukumnya adalah mu’rob.
Keterangan; perbedaan antara isim fa’il dan isim
maf’ul dalam fi’il rubâ’îdan seterusnya adalah terletak pada harkat
‘ain fi’ilnya, isim fa’il dibaca kasroh ‘ain fi’ilnya sedangkan isim maf’ul
dibaca fathah ‘ain fi’ilnya. pemakaian isim zaman, isim makan dan isim
alat tidak semuanya berlaku dalam percakapan melainkan tergantung pada
kebiasaan orang arab dalam pemakaiannya.
Bentuk Kalimat
Bentuk kalimat ada 13 macam, berikut keterangannya:
- binâ’/bentuk kalimat shohîh, adalah
bentuk kalimat yang fa’ fi’il/huruf pertama, ‘ain fi’il/huruf
kedua dan lam fi’il/huruf ketiganya (dengan menjadikan
lafadz فعل sebagai wazan/contoh perbandingan) tidak terdiri
dari huruf ‘illat/penyakit yaitu alif,wau dan yâ’ seperti نصر
- binâ’ mudlo’âf adalah kalimat yang ‘ain
fi’il dan lam fi’ilnya terdiri dari dua jenis
huruf yang sama seperti مد asalnya مدد
- binâ’ mitsâl wâwî adalah kalimat
yang fa’ fi’ilnya terdiri dari huruf wau,
seperti وعد
- binâ’ mitsâl yâ-î adalah kalimat yang fa’ fi’ilnya
terdiri dari hurufyâ’ seperti يسر
- binâ’ ajwâf wawî adalah kalimat yang ‘ain fi’ilnya
terdiri dari huruf wau seperti صان asalnya صون
- binâ’ ajwâf yâ-î adalah kalimat yang ‘ain fi’ilnya
terdiri dari hurufyâ’ seperti سار asalnya سير
- binâ’ nâqish wawî adalah kalimat yang lâm fi’ilnya
terdiri dari huruf wau seperti غزا asalnya غزو
- binâ’ nâqish yâ-î adalah kalimat yang lâm fi’ilnya
terdiri dari huruf yâ’ seperti سرى asalnya سري
9, 10 dan
11. binâ’ mahmûz fa’, ‘ain dan lâm adalah
kalimat yangfa’ fi’il, ‘ain fi’il atau lâm
fi’ilnya terdiri dari huruf hamzah seperti أدم, وأد, فآء
12. binâ’
lafîf maqrûn adalah kalimat yang terdiri dari dua huruf‘illat yang
berkumpul/tidak terpisah seperti شوى
13. binâ’
lafîf mafrûq adalah kalimat yang terdiri dari dua huruf‘illat yang
terpisah seperti وقى
Tashrîf Istilâhî
halaman. 2 ; (Kalimat yang sebangsa 3 huruf dan sepi dari tambahan)
Perlu diketahui sebelumnya
bahwa kalimat baik fi’il ataupun isim dalam bahasa arab paling sedikinya
terdiri dari tiga huruf dan paling banyak adalah 7 huruf, sedangkan bentuk
kalimat fi’il madly dan mudlori’ dari fi’il tsulâtsî (kalimat
fi’il yang terdiri dari tiga huruf) bila ditinjau dari harkat ‘ain fi’ilnya ada
enam bab dan tidak ada yang selain yang enam ini, yaitu;
a. fathah-dlommah seperti نصَر-ينصُر
b. fathah-kasroh seperti ضرَب-يضرِب
c. fathah-fathah seperti فتَح-يفتَح
d. kasroh-fathah seperti علِم-يعلَم
e. dlommah-dlommah seperti حسُن-يحسُن
f. kasroh-kasroh seperti حسِب-يحسِب
dibawah ini adalah jadwal tashrîf istilâhî dalam
bentuk tabel ke dalam bahasa Indonesia yang diambilkan dari fi’il madly,
sedangkan selain fi’il madly bisa disesuaikan sendiri terjemahnya dengan
petunjuk pembagian kalimat yang telah diterangkan sebelumnya.
Bab 1;
نصر |
Menolong |
مد |
memanjangkan |
صان |
Menjaga |
غزا |
memerangi |
أمل |
Berangan |
Bab 2;
ضرب |
Memukul |
فر |
melarikan diri |
وعد |
Berjanji |
يسر |
Gampang |
سار |
Berjalan |
سرى |
berjalan dimalam hari |
وقى |
Menjaga |
شوى |
memanggang |
أدم |
membumbui |
وأد |
mengubur hidup-hidup |
فآء |
Kembali |
Bab 3;
فعل |
mengerjakan |
فتح |
Membuka |
وضع |
meletakkan |
يفع |
mendekati baligh |
نأى |
Jauh |
نشأ |
Tumbuh |
رأى |
Melihat |
Bab 4;
علم |
mengetahui |
عض |
menggigit |
وجل |
merasa takut |
يبس |
Kering |
خاف |
Takut |
هاب |
takut pada/menghormati |
رضي |
Rela |
خشي |
takut/malu |
وجي |
berjalan dg telanjang kaki |
قوي |
Kuat |
روي |
puas dg minum |
أثم |
Berdosa |
بئس |
Celaka |
برئ |
Bebas |
Bab 5;
حسن |
Baik |
ضخم |
besar (bentuk/tubuh) |
جنب |
keluar air maninya |
شجع |
Berani |
جبن |
lemah hatinya |
وجه |
menjadi orang kaya |
يمن |
Beruntung |
طال |
Panjang |
سرو |
mulia serta dermawan |
أدب |
Sopan |
لؤم |
rendah/hina |
بطؤ |
Lambat |
وقر |
Tenang |
نجس |
Najis |
Bab 6;
حسب |
menyangka |
ومق |
Mencintai |
Halaman 8; (kalimat yang
sebangsa 4 huruf yang sepi dari tambahan)
Dibab ini akan menampilkan fi’il dan isim yang asal katanya memang tersusun dari empat huruf tanpa tambahan dan pengurangan kecuali setelah dikiyas tashrif, fi’il ruba’î mujarrod hanya ada satu bentuk yakni satu bab, di bawah ini adalah fi’il-fi’il ruba’î mujarrod dalam bentuk fi’il madly :
دحرج |
menggelincirkan |
طأطأ |
menundukkan/menganggukkan kepala |
ترجم |
menterjemahkan |
وسوس |
menggoda/mewaswaskan |
قلقل |
menggerakkan |
فلفل |
membubuhi lada |
بسمل |
mengucapkan "bismillah" |
سبحل |
mengucapkan "subhanallah" |
حمدل |
mengucapkan "alhamdulillah" |
هيلل |
mengucapkan "la ilaha illa Allah" |
حوقل |
mengucapkan "la haula wala quwata illa
billah" |
Halaman 10;
(kalimat yang sebangsa 4 huruf
yang sepi dari tambahan yang disamakan dengan fi’il rubâ’î mujarrod)
Fi’il rubâ’î mujarrod ada yang asli seperti bab sebelumnya dihalaman 8, dan ada yang dikategorikan sama dengan fi’il rubâ’î mujarrod meski sama-sama mujarrod (sepi dari tambahan) yaitu yang biasa disebut fi’il rubâ’î mulhaq (disamakan), demikian itu dikarenakan asal pengambilan bentuk fi’il rubâ’î mulhaq adalah dari suku kata mashdar fi’il tsulâtsî atau isim jâmid (menurut ulama’ kufah semua mashdar adalah jamid yakni tidak terbentuk dengan kiyas tashrîf, karena ia adalah bentuk asli suku tiap kata, sedangkan yang lain hanya diambilkan kiyasannya darinya, seperti contoh-contoh berikut ini:
جلبب (berjilbab)
dari mashdar tsulâtsî جلب (menarik/tarik)
حوقل (bercocok
diladang) dari mashdar tsulâtsî حَقْل (ladang)
بيطر (menyombongkan diri) dari mashdar tsulâtsî بطْر (sombong)
جهور (mengeraskan suara) dari mashdar tsulâtsî جهْر (keras suaranya),شريَف (memulyakan) dari mashdar tsulâtsî شَرَف (mulya)
سلقى (merebus) dari mashdar tsulâtsî سلْق (merebus)
dan قلنس (memakaikan songkok) dari isim jâmid (isim
yang tidak dapat dikiyas tashrîf) قلنسوة (songkok)
halaman 12; (bab pertama dari fi’il tsulâtsî yang diberi tambahan)
fi’il tsulâtsî mujarrod dipindah pada wazan "فعَّل" dengan menambahkan kelipatan huruf, berfaidah sebagai berikut:
- transitif, seperti : فرّح زيد عمرا (zaid menggembirakan umar), karna mujarrodnya
(ketika sepi dari tambahan) berfaidah intransitive
- menunjukkan makna banyak, sepeerti: قطّع زيد الحبل (yakni, zaid memotong-motong tali menjadi
banyak potongan)
- memposisikan objek pada asal pekerjaannya,
seperti: كفّر
زيد عمرا (yakni, zaid memposisikan kafir/mengkafirkan
si umar)
- mencabut/merusak asal pekerjaan dari objek,
seperti: قشّر
زيد الرمان (yakni, zaid mengupas kulit delima)
- pengambilan fi’il (kata kerja) dari isim (kata
sifat atau benda), seperti: خيّم القوم (yakni, kaum mendirikan tenda).
Perlu diketahui juga bahwa macam-macam huruf
tambahan yang bisa ditambahan pada kalimat baik fi’il maupun isim itu ada 10
macam, yaitu terangkum dalam kata singkat أُوَيْسًا
هَلْ تَنَمْ" , perinciannya sebagai berikut:
a. |
hamzah |
f. |
hâ’ |
b. |
wau |
g. |
lâm |
c. |
yâ’ |
h. |
tâ’ |
d. |
sîn |
i. |
nûn |
e. |
âlif |
j. |
mîm |
dibawah ini adalah contoh-contoh fi’il tsulâtsî
mazîd :
فرح |
menggembirakan |
كرر |
mengulang-ulangi |
وكل |
mewakilkan |
يسر |
memudahkan |
نور |
menerangi |
بين |
menjelaskan |
زكى |
membersihkan/menyucikan |
لقى |
mempertemukan/menemui |
ولى |
mengangkat
(jabatannya) |
قوى |
menguatkan |
أدب |
mengadabkan/mendidiknya
adab |
شأم |
menyialkan |
هنأ |
mengucapkan tahniah
(selamat) |
Halaman 14; (bab fi’il
tsulâtsî mazid/yang diberi tambahan)
fi’il tsulâtsî mujarrod dipindah pada wazan "فاعل" dengan
penambahan alif setelah fâ’, berfaidah sebagai berikut:
1. musyârokah (persekutuan/gabungan) diantara dua
orang/sesuatu, (musyârokah ialah maksud dari satu pekerjaan yang
dikerjakan oleh dua subjek sehingga kedua-duanya menjadi fa’il (subjek)
sekaligus maf’ûl (objek), seperti contoh:ضارب زيد
عمرا (zaid dan
umar saling pukul)
2. bermakna fâ’ala yang berfaidah bermakna banyak,
seperti contoh: ضاعف الله memakai makna lafadz ضعّف الله (semoga Allah melipatkan,
pahalanya)
3. bermakna af’ala yang berfaidah ta’diyyah (melampaui/butuh
pada maf’ul), seperti contoh: عافاك الله (artinya semoga Allah menyehatkanmu)
4. bermakna fa’ala yang mujarrod (sepi dari tambahan),
seperti contoh: سافر زيد , قاتله الله , بارك
الله فيك (zaid
melakukan safar, semoga Allah memeranginya, semoga Allah memberkahimu)
dibawah ini adalah bentuk
kiyasannya :
قاتل |
membunuh/memerangi |
ماس |
menyentuhkan |
واعد |
menjanjikan |
ياسر |
menggampangkan |
عاون |
menolong |
باين |
meninggalkan |
عاطى |
memberikan (tanpa
ucapan) |
لاقى |
menemui |
والى |
menolong/mengasihi |
داوى |
mengobati |
آخذ |
menindak dengan
siksaan (menyiksa) |
لآءم |
mencocoki |
ناسأ |
berbuat riba nasi'ah
pada(menunda pembayaran) |
Halaman 16;
(bab fi’il tsulâtsî mazîd)
Fi’il tsulâtsî mujarrod dipindah pada wazan "أفعل" dengan menambahkan hamzah qoth’ (huruf
hamzah yang tetap dibaca baik dalam keadaan tersambung atau terpisah)
diakhirnya, berfaidah sebagai berikut:
- ta’diyyah (melampaui pada
maf’ul/mebutuhkan objek) seperti:أكرمت زيدا (aku memulyakan zaid)
- masuk/melebur dalam
sesuatu/masa, seperti: أمسى المسافر (si musafir
memasuki waktu sore)
- bermakna menuju pada
sesuatu/tempat, seperti: أحجز زيد و أعرق عمرو (zaid
menuju Hijaz dan umar menuju Irak)
- menunjukkan adanya sesuatu yang menjadi
pengambilan fi’il dalam diri fa’il, seperti contoh: أثمر الطلح و أورق الشجر (pohon pisang berbuah dan pohon berdaun) yakni
buah dan daun terdapat dalam diri pohon
- makna mubâlaghoh (sangat),
seperti contoh: أشغلت عمرا (aku sangat menyibukkan umar)
- menemukan sesuatu berada dalam suatu sifat,
seperti: أعظمته و أحمدته (aku menemukannya dalam keadaan agung dan
terpuji)
- bermakna “jadi”, seperti: أقفر البلد (negeri itu menjadi fakir)
- bermakna “menawarkan/menyediakan”,
seperti: عرض الثوب (dia
menyediakan baju untuk dijual)
- bermakna “tiada/sirna”, seperti: أشفى المريض (si sakit hilang sembuhnya)
- bermakna “sudah tiba waktunya”, seperti: أحصد الزرع (sudah tiba waktunya memanen tanaman)
dibawah ini adalah tabel bentuk-bentuk wazannya :
أكرم |
memulyakan |
أمد |
menolong/memanjangkan
tangan |
أوعد |
menjanjikan |
أيسر |
memudahkan |
أجاب |
menjawab |
أبان |
menjelaskan |
أعطى |
memberikan |
أدرى |
memberitahukan |
أودى |
membayar (diyat) |
أروى |
menyegarkan (dengan
air) |
آمن |
mengamankan |
أجأر |
memaksa berdoa sepenuh
hati pada |
أبرأ |
membebaskan |
Halaman 18; (bab fi’il
tsulâtsî mazîd)
Fi’il tsulâtsî mujarrod dipindah pada wazan ”تفاعل" dengan menambahkan “tâ’” diawalnya dan “âlif”
setelah fâ’, berfaidah:
- persekutuan antara dua orang atau lebih,
seperti: تصالح القوم و تضارب زيد
وعمرو (saling berdamai si kaum dan saling pukul si
zaid dan umar)
- menampakkan sesuatu yang bukan dalam
kenyataan, seperti:تمارض زيد (pura-pura
sakit si zaid), yakni menampakkan sakit padahal tidak sakit
- menunjukkan keterjadian secara
berangsur-angsur, seperti: توارد القوم (saling berdatangan si kaum) yakni mereka
berdatangan sedikit demi sedikit
- menunjukkan makna tsulâtsî mujarrod,
seperti: تعالى وسما (tinggi
si dia dalam pangkatnya)
- muthôwa’ahnya wazan “fâ’ala”, seperti: باعدته فتباعد (aku menjauhinya maka menjadi jauhlah dia)
yang dimaksud muthôwa’ah ialah
hasil sesuatu ketika suatu kalimat berhubungan dengan fi’il muta’addî (fi’il
yang membutuhkan maf’ûl),
dibawah ini adalah contoh-contoh kiyasannya :
تباعد |
saling menjauhi |
تماس |
saling bersentuhan |
تواعد |
saling berjanji |
تيامن |
mendahulukan yang
kanan |
تلاوم |
saling menyalahkan |
تباين |
saling
menjuhi/menyalahi |
تعاطى |
saling memberi tanpa
ucap |
تلاقى |
saling bertemu |
توارى |
bersembunyi |
تداوى |
berobat |
تآنف |
saling memandang
rendah |
تساءل |
saling bertanya |
تمالأ |
saling berkomplot |
halaman 20; (bab fi’il
tsulâtsî mazîd)
fi’il tsulâtsî mujarrod dipindah pada wazan "تفعّل" dengan menambahkan tâ’ diawalnya dan menggandakan
‘ain, berfaida:
- Muthôwa’ahnya wazan “fa’-‘ala” yang ber’ain fi’il ganda,
seperti:كسّرت الزجاج فتكسّر (aku
memecahkan kaca maka menjadi pecahlah kaca itu)
- makna takalluf yaitu
persekongkolan/pertolongan fâ’il/subjek yang diberikan pada fi’il/predikat
agar predikat tersebut hasil/terwujud, seperti: تشجع زيد (zaid
memberanikan diri) yakni zaid memaksakan sifat keberanian dan mendorongnya
agar terwujud dalam dirinya
- fâ’il (si subjek) menjadikan/mencetak fi’il
(kata kerja) dari kalimat yang pada asalnya adalah maf’ûl (objek),
seperti تبنيت يوسف(aku menjadikan yusuf sebagai anakku)
dengan mencetak kata إبنmenjadi تبنّى
- menunjukkan makna menjauhi sesuatu,
seperti تذمم زيد (zaid
menjauhi celaan)
- menunjukkan makna “menjadi” seperti تأيمت المرأة (menjadi janda si perempuan) yakni dia menjadi
“ayyim” (janda)
- menunjukkan terjadinya predikat secara
berkali-kali, seperti تجرع زيد (yakni zaid minum teguk demi teguk)
- makna “tuntutan” seperti تعجل الشيء (dia terburu-buru terhadap sesuatu yakni
menuntut untuk dikerjakan dengan cepat), dan تبينه(yakni
dia menuntut “bayan” penjelasannya)
dibawah ini adalah contoh wazannya :
تكسر |
menjadi pecah |
تكرر |
berulang-ulang |
توعد |
mengancam |
تيسر |
menjadi mudah |
تنور |
menjadi terang |
تبين |
menjadi jelas |
تعدى |
melampaui batas |
تلقى |
mendapat/menerima |
تولى |
menjadi pejabat |
تروى |
minum/berfikir |
تأدب |
berakal budi |
ترأد |
berayun/bergoyang |
تصدأ |
melihat dalam keadaan
berdiri |
halaman 22; (bab fi’il
tsulâtsî mazîd)
fi’il tsulâtsî mujarrod dipindah pada wazan "افتعل" dengan menambahkan “hamzah” diawalnya dan “tâ’”
diantara fâ’ dan ‘ain fi’ilnya berfaidah sebagai berikut:
1. muthôwa’ahnya wazan “fa’ala” seperti جمعت الإبل فـ اجتمع(aku
mengumpulkan unta maka berkumpullah si unta)
2. makna “menjadikan/membuat” seperti اختبز زيد (zaid membuat/menjadikan roti)
3. menambahkan makna mubaghoh (sangat)
dalam makna kalimat, seperti اكتسب زيد (si zaid bekerja dengan sangat)
4. bermakna wazan “fa’ala” (fi’il tsulâtsî mujarrod)
seperti اجتذب(dia jadzab/mabuk dalam bermunajat)
5. bermakna wazan “tafâ’ala” (saling), seperti اختصم bermaknaتخاصم (saling berseteru)
6. bermakna “tuntutan” seperti اكتدّ (fi’il amar
yakni dia menuntut darinya kesungguh-sungguhan)
berikut ini contoh wazannya :
اجتمع |
berkumpul |
امتد |
memanjang |
اتصل |
menghubungi |
اتسر |
menjadi mudah |
اعتاد |
membiasakan |
اشترى |
membeli |
اتقى |
bertakwa |
ارتوى |
menjadi segar/puas
(dengan minum) |
ايتمن |
mempercayakan
kepada/melakuakan dengan tangan kanan |
ابتأس |
bersedih hati |
اجترأ |
berani |
اختار |
memilih |
اعتدى |
melampaui
batas/menyalahi peraturan |
Halaman 24; (bab fi’il
tsulâtsî mazîd)
Fi’il tsulâtsî mujarrod dipindah pada wazan "انْفَعَلَ" dengan menambahkan hamzah dan nûn diawalnya,
berfaidah:
- muthôwa’ahnya wazan “fa’ala” seperti كسرت الزجاج فـ انكسر(aku memecahkan kaca maka pecahlah kaca itu)
- muthôwa’ahnya wazan “af’ala” tapi sedikit berlakunya,
sepertiأزعجه فـ انزعج (aku
mengagetkannya maka kagetlah dia)
keterangan; wazan “infa’ala” tidak terbentuk
kecuali dari kalimat yang menunjukkan makna perbaikan dan menghasilkan
bekas/dampak secara indrawi, berikut contoh wazannya :
انفعل |
terjadi pekerjaannya |
انكسر |
menjadi pecah |
انفض |
menjdi pecah
(terputus/berakhir) |
انقاد |
menjadi tunduk/patuh |
انماع |
menjadi cair |
انجلى |
menjadi jelas |
انبرى |
menjadi terkendali |
انطفأ |
menjadi padam |
Halaman 26; (bab fi’il
tsulâtsî mazîd)
Fi’il tsulâtsî dipindah pada wazan "افْعَلَّ" dengan menambahkan hamzah washol dan penggandaan
lâm fi’il, berfaidah:
- menunjukkan berada/memasuki dalam suatu sifat,
seperti احمرَّ البُسْرُ (air
baru itu memerah) yakni masuk dalam warna merah
- makna “sangat” seperti اسودّ الليل (malam menjadi sangat hitam)
dibawah ini contoh wazannya :
احمر |
memerah |
اسود |
menghitam |
ابيض |
memutih |
اصفر |
menguning |
اخضر |
menghijau |
اشهب |
menjadi kelabu |
اسمر |
menjadi coklat |
Halaman 26; (bab fi’il
tsulâtsî mazîd)
Fi’il tsulâtsî mujarrod dipindah pada wazan "اسْتَفْعَلَ" dengan menambahkan hamzah washol (hamzah
yang dibaca pada saat tidak tersambung seperti istaf’ala dan tidak dibaca saat
tersambung dengan kalimat lain seperti إِنِ اسْتَفْعَلَ), sîn dan tâ’, berfaidah:
- menuntut suatu pekerjaan seperti استغفر الله (dia meminta ampun pada Allah) yakni dia
menuntut pengampunan dari Allah
- menemukan sesuatu tampak/berada dalam suatu
sifat, sepertiاستعظمته واستحسنته (aku
nampak ia agung dan bagus)
- makna beralih/pindah, seperti استحجر الطين (Lumpur beralih menjadi batu)
- makna terpaksa/menanggung beban, seperti استجرأ (dia memaksakan untuk berani)
- bermakna seperti fi’il tsulâtsî mujarrod,
seperti استقرّ bermakna قرّّ(menetap/tetap)
muthôwa’ah seperti أراحه فـ استراح (dia A mengistirahatkannya B maka beristirahatlah dia B)
File dapat didownload DI SINI
Sumber : http://adamelfarizy.blogspot.com/2011/05/panduan-belajar-kitab-amtsilatut_02.html
Baca juga : Amsilatut Tasrifiyah dan nadzoman
Posting Komentar untuk "Panduan Kitab Amsilatut Tasrifiyah"